Jumat, 24 Januari 2020

Jerome Polin dan Mimpi Masa Depan Untuk Pendidikan di Indonesia

Belajar Mementingkan Pendidikan dan Peduli Terhadap Pendidikan Indonesia lewat Sosok ini ...



Jerome Polin, seorang pemuda yang lahir di Jakarta, 02 Mei 1998 merupakan seorang mahasiswa yang saat ini tengah menempuh pendidikan  S1 Matematika di Waseda University, Jepang. Jerome sendiri merupakan sosok inspiratif yang patut menjadi contoh bagi anak-anak milenial, yang tidak hanya eksis di chanel YouTubenya  “Nihongo Mantappu” dan seringkali ngebanyol di story Instagramnya ini juga berhasil mengejar cita-cita dari kecilnya untuk kuliah di luar negeri.

Jerome yang besar di Surabaya ini berbeda dari anak milenial biasanya, yang menganggap bahwa sekolah itu hanya sebuah kewajiban dan nilai bukan keharusan penting, namun bagi Jerome sekolah dan nilai itu amatlah penting.

Melalui video diakun Youtubenya yang berjudul “Sekolah, Nilai, Gelar, Penting Gak Sih?!” yang menghadirkan Sabda PS, Co-founder Zenius Education, Jerome dan Sabda berdiskusi menjelaskan mengenai pentingnya sekolah, nilai, dan gelar di era pertumbuhan teknologi yang sudah menyediakan akses mudah terhadap informasi dan pengetahuan bagi semua orang.







Apabila kita sudah mendapatkan ilmu dari luar, lalu apa pentingnya sekolah?

Menurut Jerome, hal yang didapat dari sekolah itu adalah pertemanan dan juga nilai-nilai kehidupan. Sebelum terjun ke dunia nyata, seseorang harus memiliki persiapan mental, dan sekolah juga memberikan tekanan pada peserta didiknya. Di sekolah inilah seseorang akan memiliki kemampuan menghadapi masalah, tanggung jawab, manajemen waktu, dan banyak hal-hal lainnya.

“Belajar ilmu mungkin bisa didapat dari tempat lain, tetapi yang paling penting dari sekolah itu belajar berteman dan bermasyarakat. Belajar dan mendalami keilmuan itu bisa dilakukan di mana-mana, namun yang paling sulit didapatkan di luar sekolah itu selain belajar berteman, kita juga belajar menghargai budaya orang lain— terlebih kalau bersekolah di sekolah campur yang terdiri dari berbagai macam suku, ras dan agama. Kita juga bisa belajar bertoleransi dan berkompromi dengan yang lain,” ujar Sabda.

Sabda menambahkan, “Buat apa sih kita belajar sesuatu yang tidak kita gunakan? Sebenarnya, belajar hal-hal seperti itu apabila dilakukan dengan benar akan banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari sisi pembentukan pola pikir. Bukan isinya, tetapi dampak belajarnya terhadap otak sehingga akhirnya bisa berpikir logis.”

Menurutnya, sekolah itu penting untuk merangsang rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan. Dengan belajar semua hal tersebut di sekolah, siswa tidak diwajibkan untuk jago semua hal dan tahu semua ilmu secara detil. Dengan hanya mengetahui big picture dari suatu bidang ilmu, maka siswa sudah mendapatkan fungsi fundamental dari sekolah.

Dia menambahkan, terlebih lagi kalau bersekolah di sekolah campur yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama. Kita juga bisa belajar bertoleransi dan berkompromi dengan yang lain.

Pembentukan pola pikir


Mereka pun membahas tentang pertanyaan, “Buat apa sih kita belajar sesuatu yang tidak kita gunakan?” Menurut Sabda, sebenarnya belajar hal-hal seperti itu apabila dilakukan dengan benar akan banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari sisi pembentukan pola pikir. “Bukan isinya, tetapi dampak belajarnya terhadap otak sehingga akhirnya bisa berpikir logis,” imbuhnya.
Dia menuturkan, sekolah itu penting untuk merangsang rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan. Dengan belajar semua hal tersebut di sekolah, siswa tidak diwajibkan untuk jago semua hal dan tahu semua ilmu secara detail. Dengan hanya mengetahui big picture dari suatu bidang ilmu, maka siswa sudah mendapatkan fungsi fundamental dari sekolah.

Apa pentingnya gelar?

Sabda menganggap bahwa gelar adalah semacam label bahwa seseorang sudah menguasai sesuatu. Misalnya, ketika seseorang sakit dan pergi berobat ke dokter, lalu dokternya tidak memiliki gelar, tentu saja akan timbul pemikiran apakah orang yang menangani keluhannya memang seorang dokter atau bukan.

Untuk bidang tertentu seperti dokter, tentu gelar itu sangatlah penting. Namun, untuk beberapa bidang lain seperti misalnya programming, indikator penguasaan ilmunya tidak hanya dilihat dari gelar. Para programmer tidak butuh gelar untuk mengukur kemampuannya, mereka akan dianggap menguasai bidang mereka dari program yang sudah berhasil mereka buat.

Gelar juga bisa menjadi sebuah masalah, karena tingkat kepercayaan seseorang terhadap suatu gelar sangat bergantung kepada lembaga yang memberi cap gelar tersebut. Tidak menutup kemungkinan bahwa suatu lembaga pemberi gelar bisa saja memiliki standar yang salah. Banyak kasus yang dapat ditemui sehari-hari di mana orang tidak menguasai bidang tertentu tetapi memiliki gelar di bidang tersebut.

“Sekolah penting atau tidak, ya ada pentingnya. Yang penting sekali dari sekolah adalah belajar bermasyarakat. Kalau belajar ilmunya itu bisa dari mana saja, tapi belajar bermasyarakat ini dipelajari di sekolah. Sekolah itu juga tempat kita mencari jati diri,” tutup Sabda.

Berbicara soal Jerome, ia memiliki mimpi sebagai Menteri Pendidikan Indonesia, tentu keinginan itu berawal dari sebuah keresahan saat melihat sistem pendidikan negara ini yang masih timpang. Siapa pun itu, kita tak seharusnya abai, menutup mata, menyumpal telinga, dan rebahan manja menyaksikan transformasi pendidikan yang kian tak sesuai harapan.

Masalah pendidikan di Indonesia perlu menjadi atensi dalam pergerakan kita saat ini. Tak perlu bercita-cita tinggi seperti Jerome yang ingin menjadi menteri pendidikan. Atau menunggu dulu menjadi guru, dosen, kepala sekolah, dan sebagainya, agar bisa mengatur semaunya. Kita tak harus menjadi jagoan dulu, tak perlu, tapi tidak juga berlagak jago, untuk melakukan suatu perubahan yang esensial dalam pendidikan kita.

Sebagai mahasiswa misalnya, kita bisa memulainya dari hal-hal kecil, tapi rutin dan komitmen dilakukan, seperti menahan diri untuk tidak menyontek saat ujian, tidak menyebarkan berita hoax, tidak menitip absen ke teman, tidak copy paste tugas punya teman atau dari internet-tanpa mengolahnya kembali dan lainnya.

Jerome sendiri memilih tidak berdiam diri. Di sela-sela kesibukannya menjalani studi di Jepang, ia telah berhasil menyelesaikan buku dengan judul “MANTAPPU JIWA” yang kabarnya sangat memotivasi para generasi muda. Dilansir dari detik.com, buku Jerome tersebut terjual sebanyak 2.000 eksemplar hanya dalam waktu 7 menit. Siapa pun, termasuk Jerome, tidak pernah menduga akan sampai pada pencapaiannya saat ini.



Melalui channel youtubenya pula, Nihongo Mantappu, ia tak kehabisan konten untuk menghibur penggemar-penggemarnya. Mulai dari cerita perjuangannya mendapatkan beasiswa Mitsui Bussan yang menurutnya tidak mudah-karena harus bersaing dengan puluhan ribu pendaftar Indonesia dengan kuota yang tersedia hanya dua orang, belajar bahasa dan kebudayaan Jepang, bagaimana kehidupan mahasiswa di Jepang, serta tak kalah seru dan paling ditunggu-tunggu ialah battle matematika dengan lawan yang tak kalah tangguh.

Selain membuat gigi mengering, tentunya video-video yang diunggah sangat mengedukasi, dan me-recharge energi-enegi pelajar Indonesia untuk terus belajar, mengasah kemampuan, jangan menyerah, jangan banyak main, jangan banyak galau, jangan banyak rebahan, jangan suka nge-bucin, dan teruslah melakukan hal-hal yang produktif!

Menyinggung soal mimpinya yang menjadi menteri pendidikan Indonesia masa didepan, di channel youtubenya yang khas dengan jargon “Mantappu Jiwa”, “wadidaw”, ia juga bercerita banyak tentang opini-opininya terkait pendidikan Indonesia dan harapan-harapannya saat mimpinya menjadi menteri pendidikan benar-benar terwujud suatu saat nanti.

Dalam vlog yang berdurasi 10 menit 50 detik, Jerome menyampaikan 3 poin yang menurutnya sangat krusial dalam pendidikan Indonesia dengan sapaan pembuka yang khas, “Minnasan Konnijiwaaaaaaaaaaaaaaa”. Nah, salah satu poin menarik yang ia bahas, ialah tentang bagaimana kedudukan profesi guru di negara Indonesia ini. 


 Bagi Jerome, gaji guru di Indonesia terbilang rendah apalagi untuk guru honorer dan guru-guru swasta. Meski memang, tidak semua orang melihat pekerjaan dari segi materinya, tapi menurutku sah-sah saja menyinggung gaji guru sebagai salah satu indikator bergengsi tidaknya profesi tersebut.

Guru, yang katanya punya peran sangat besar dalam dunia pendidikan dan kunci utama membuka pintu kemajuan bangsa, namun tidak mendapat penjaminan kesejahteraan hidup, baik dari segi materi maupun hukum. Amich Alhumami dalam tulisannya berjudul “Memuliakan Profesi Guru”-dalam buku berjudul “Potret Pendidikan Kita”, ia mengibaratkan guru sebagai jantung dari segala problem pendidikan yang terjadi di Indonesia.

Namun, nyatanya guru masih dianggap sebagai profesi rendahan, sepele, dan biasa-biasa saja. Tidak seprestisius profesi dokter, polisi, tentara, presiden, dan profesi bergengsi lainnya.

Jika dibandingkan dengan Jepang, Jerome mengaku bahwa gaji guru disana bisa mencapai Rp38 juta/bulan. Woow. Itu angka yang fantastis bagi seorang guru Indonesia, bukan? Dan, faktanya, ternyata rata-rata orang Jepang memiliki minat tinggi untuk menjadi guru. Alasannya bukan semata karena gaji yang tinggi, tapi mereka sangat peduli dan ingin berkontribusi untuk perbaikan pendidikan di negaranya. Bagaimana dengan kita?

Menurut Jerome, ada korelasi positif antara gaji guru dengan peningkatan kualitas guru. Jadi begini korelasinya, ketika gaji guru tinggi, maka tentu akan banyak orang yang berminat menjadi guru. Saat minat menjadi guru tinggi, orang akan berlomba-lomba mengikuti seleksi perekrutan guru, dan akibatnya persaingan menjadi guru akan ketat.

Dengan demikian, persaingan yang ketat akan mendorong para calon guru untuk memikirkan cara terbaik, mengasah potensi, mengembangkan kemampuan, dan meningkatkan kreativitas agar bisa lulus seleksi menjadi guru. Melalui perekrutan guru yang ketat, maka akan dihasilkan guru-guru yang berkualitas dan berkompeten dalam mengarungi perjalanan pendidikan Indonesia. Guru yang berkualitaslah yang mampu menghasilkan SDM-SDM yang berkualitas pula yang siap menjadi bahan baku segar untuk diolah menuju kemajuan bangsa Indonesia.

Terakhir dari video tersebut, dengan lugas dan penuh keyakinan ia menyampaikan harapannya saat menjadi bagian dari penentu kebijakan pendidikan di Indonesia nanti. “Jadi, ketika aku bisa berkontribusi untuk pendidikan Indonesia, aku akan meningkatkan kesejahteraan guru dan meningkatkan kualitas guru-guru Indonesia, sehingga diharapkan profesi guru bisa menjadi profesi yang banyak diminati oleh orang dan tidak dianggap rendah lagi.

Dan, akhirnya akan banyak persaingan untuk menjadi guru, sehingga level dan kualitas guru akan meningkat, dan dapat menghasilkan banyak murid yang baik. Murid-murid yang baik akan menjadi SDM yang berkualitas suatu saat nanti. Dan, SDM yang berkualitas itulah yang akan berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. Sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang kuat, negara yang maju. Dan menjadi negara yang disegani oleh banyak bangsa.”

Dari unggahan tersebut, terhitung 424.071 kali yang menonton dan paling penting ada sebanyak 10.231 komentar yang hampir semua mendukung dan tidak sabar menunggu Jerome untuk menduduki Menteri Pendidikan Indonesia kelak. Banyak juga yang menyampaikan harapan-harapan mereka yang kiranya dapat dipertimbangkan dan direalisasikan ketika Jerome berkuasa sebagai pengambil kebijakan suatu saat nanti.

Tapi kenapa harus menunggu jerome? Bukankah baru beberapa waktu lalu Mentri Pendidikan Indonesia diamanahkan kepada orang baru yakni Bapak Nadiem Makarim?. Semoga aprisiasi kita sampai dan terdengar oleh Bapak Mendikbud yang baru yaa^^.



"Lawanmu itu 'soal' bukan 'mereka'. Kalau kamu bisa kerjakan 'soal'nya, kamu dapat nilai bagus. Kalau mereka dapat nilai bagus juga, kalian sama-sama dapat nilai bagus. Jadi, tidak usah repot memikirkan 'saingan'mu, pikirkan 'soal' yang menunggumu saja." 

#rumusjerome pada buku "Buku Latihan Soal : Mantappu Jiwa" karya Jerome Polin hal. 103






Refrensi :
  1. https://edukasi.kompas.com/read/2019/02/21/17481351/mengenal-jerome-polin-dan-alasan-bikin-vlog-kehidupan-kuliah-di-jepang?page=all.
  2. https://edukasi.kompas.com/read/2019/09/30/17124561/pentingnya-sekolah-dan-nilai-di-mata-influencer-pendidikan?page=all
  3. https://www.idntimes.com/life/education/niken-ajeng-pangestuty/7-fakta-jerome-polin-youtuber-indonesia-yang-dapat-beasiswa-di-jepang-c1c2-1/full
  4. https://www.qureta.com/post/jerome-polin-dan-mimpi-masa-depan-pendidikan-indonesia
  5. https://edukasi.kompas.com/read/2019/02/21/17481351/mengenal-jerome-polin-dan-alasan-bikin-vlog-kehidupan-kuliah-di-jepang?page=all

Pentingkah Kuliah itu? Adakah Manfaatnya?



Pendidikan dan keterampilan yang mumpuni merupakan beberapa faktor yang sangat menentukan jenis pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang di masa depan. Sangat tidak mungkin seseorang yang tidak memiliki keterampilan yang baik akan direkrut oleh sebuah perusahaan untuk bekerja. Hal inilah yang menunjukkan bahwa manfaat kuliah dan mendapatkan pengetahuan baru merupakan hal yang sangat penting saat ini.

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan adalah dengan menempuh pendidikan perguruan tinggi atau yang biasa disebut kuliah. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau kuliah tentunya adalah idaman setiap orang. Meskipun tidak semua memiliki pendapat yang sama mengenai hal tersebut, tetapi melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang tertinggi merupakan mimpi hampir semua orang. Pendidikan yang semakin tinggi tentu dalam masyarakat umum lebih dipandang dan “terjamin”. Apalagi sebagai orang tua, memiliki anak yang kuliah hingga menyandang status “Sarjana” adalah idaman sekaligus kebanggan  yang tak ternilai harganya.

Begitupun dengan mereka, calon maupun yang telah menjadi mahasiswa, ada kebanggaan tersendiri menjadi anak kuliahan.  Bukan hanya untuk belajar dan menerima segudang tugas dari para dosen, namun lebih dari itu. Menjadi anak kuliahan memiliki “nilai lebih”.

Kuliah menjadi salah satu jenjang pendidikan tertinggi yang ada saat ini, terdapat tiga tingkatan pendidikan mulai dari sarjana sampai doktor. Banyak masyarakat merasa berat untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat ini, pasalnya biaya yang dibutuhkan tidak sedikit terlebih jika memilih perguruan tinggi swasta.

Menemukan dan mengalami hal-hal baru dalam dinamika kampus yang penuh dengan gejolak akademis dan non akademis yang menantang. Ketertarikan untuk menjadi anak kuliahan memang tak sekedar hanya untuk mengejar cita-cita semata, terdapat beberapa alasan mendasar mengapa seseorang ingin berkuliah, yaitu:



  •  Mempermudah Mencari Pekerjaan
Alasan ini paling utama dan  mendominasi seseorang untuk berkuliah. Bahkan dalam persepsi mahasiswa, kuliah membantu untuk mempermudah memperoleh pekerjaan, meskipun nantinya pekerjaannya terkadang tak sejalan dengan keilmuan yang digeluti dalam perguruan tinggi sebelumnya. Ini lumrah terjadi di lapangan. Pada intinya ingin dapat kerja dan bisa mencukupi kebutuhan hidup.
Belum lagi beberapa kampus belakangan ini mempromosikan dan menyatakan siap untuk menghasilkan sarjana yang siap kerja, dengan beragam jaringan lapangan kerja yang tersebar di perusahaan dalam negeri maupun luar negeri.



  • Meningkatkan SDM
Kuliah untuk belajar dan mau meningkatkan sumber daya manusia, bagi sebagian mahasiswa saat ini menjadi prioritas kedua setelah posisi pertama di atas yang mendominasi versi saya pribadi. Jarang terdengar orang kuliah saat ini benar-benar ingin mau meningkatkan SDM (belajar dengan serius) dan ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Mahasiswa saat ini memang cenderung pragmatis. Meskipun ada, itu pun bisa dihitung dengan jari. Individualis dan egois, dua sisi sifat ini telah membentuk karakter manusia yang namanya mahasiswa.



  • Status Sosial
Kuliah bagi sebagian masyarakat  yang mampu atau berduit tentu merupakan sebuah simbol dan lambang “kemampuan”. Kuliah yang masih dipersepsikan sebagai pendidikan tinggi dengan biaya mahal plus fasilitas pelengkap lainnya adalah kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi Si orang tua dan Si mahasiswa. Bahkan ada yang dengan jor-joran “mempublikasikan” keluarga ataupun anak sendiri kuliah sampai keluar negeri.



  • Berorganisasi
Ini pun menjadi pertimbangan yang cukup besar, mengapa seseorang semangat untuk kuliah. Selain untuk menjalankan aktivitas perkuliahan yang formal, kegiatan ekstra atau organisasi untuk mengisi waktu luang sangat memberikan kontribusi besar terhadap mahasiswa yang bersangkutan.
Bahkan bagi mahasiswa yang aktif dan serius menekuni organisasi, mampu dan bisa menjadi modal sekaligus jaminan ketika terjun di lapangan untuk memperoleh pekerjaan.



  • Mencari Relasi
Kuliah selain berhadapan dengan orang dengan yang berasal dari beragam daerah, suku, Ras, Agama, kuliah juga sarana tepat untuk mencari relasi baru. Terkadang kampus dijadikan ruang strategis dalam membangun jaringan, yang bertujuan untuk mengenal satu sama lainnya yang nantinya akan mengarah pada sebuah tujuan pasti.
Semakin banyak memiliki teman (relasi) semakin bagus. Ini bisa dimanfaatkan untuk mencari beragam informasi yang dibutuhkan oleh Si mahasiswa dikemudian hari. Apalagi saat ini, pertumbuhan jejaring sosial yang semakin merebak di kalangan mahasiswa dengan  mudah membuat sebuah komunitas di halaman media sosial, dan saling berinteraksi satu sama lain dengan beragam tujuan, dari membicarakan aktivitas sehari-hari hingga tawaran pekerjaan. Sangat membantu bukan!



  • Partisifasi
Bagi pelajar yang baru melanjutkan ke jenjang PT, bahkan nyaris tak memiliki tujuan kenapa harus kuliah sebenarnya hanyalah untuk menghindar dari pekerjaan rumah ataupun belum siap mencari lapangan pekerjaan. Terkadang mahasiswa seperti ini hanyalah sekadar ikut-ikutan (partisifasi).
Kuliah hanya dijadikan sebagai “trendsetter”, gagah-gahan dan agar dianggap keren (intelek). Sesungguhnya dalam hati kecil tidak sepaham dengan pemikiran tersebut. Mahasiswa seperti ini cenderung hanya menghambur-hamburkan uang dan suka berfoya-foya.



  • Cari Jodoh
Tak bisa dipungkiri memang, meskipun sebagian mahasiswa malu untuk menyatakan tujuan kuliah mereka sebagai ajang untuk cari jodoh, namun sudah banyak bukti yang telah lulus dari PT, akhirnya menjalin hubungan serius dan menindak lanjuti ke jenjang yang lebih serius (menikah). Ini fakta yang berbicara, menjalin asmara sesama anak kuliahan adalah hal objektif yang bisa kita saksikan. Mungkin karena sudah merasa cocok dan satu pandangan.

Terlepas dari alasan-alasan mengapa seseorang menempuh pendidikan diperguruan tinggi, ada banyak juga manfaat yang didapatkan setelah menempuh pendidikan diperguruan tinggi. Mengapa melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan penting? Berikut ulasannya :


  • Membuat peluang kerja lebih besar
Meski banyak di antara masyarakat yang sudah bergelar S1 atau D3 namun masih belum juga mendapatkan pekerjaan, namun hal ini terjadi pada segelintir orang saja dan kebanyakan lulusan universitas mudah diterima bekerja di berbagai perusahaan besar sekalipun.
Ketika sebuah perusahaan mencari karyawan, yang pertama kali ditanyakan adalah lulus dari universitas mana atau tingkatan jenjang pendidikan mana yang terakhir di masuki. Semakin tinggi tingkat jenjang pendidikan yang dimiliki, maka semakin besar pula pihak perusahaan mempertimbangkan Anda bisa mengisi posisi di perusahaan tersebut.
Untuk pekerja kantoran atau karyawan di perusahaan biasanya tingkat pendidikan minimal adalah S1 (ada juga yang mensyaratkan lulus D3 minimal, sangat jarang perusahaan mencari lulusan SMA atau sederajat kecuali pada profesi tertentu).
Bagi yang ingin melanjutkan pendidikan namun terkendala masalah waktu karena sudah sibuk bekerja sebagai karyawan, bisa mengambil kuliah kelas karyawan yang melakukan pembelajaran pada malam hari atau pada weekend saja.


  • Membuat pola pikir lebih dewasa
Jenjang perkuliahan tentunya tidak sama dengan jenjang pendidikan tingkat SMA atau sederajat lainnya, pada jenjang ini pola pendidikan yang diterapkan tentu sangat berbeda dengan jenjang sebelumnya.
Jika pada masa SMA siswa akan mendapatkan informasi secara penuh dari guru serta masih bisa mendapatkan tambahan informasi dari guru yang bersangkutan ketika mengerjakan tugas, namun pada jenjang perkuliahan biasanya mahasiswa akan lebih banyak belajar sendiri atau belajar secara mandiri mengenai materi yang tidak dipahaminya atau tugas yang sulit dikerjakannya.

Pola pendidikan ini tentunya berimbas pada pola pikir yang semakin dewasa, selain hanya sibuk belajar untuk mendapatkan gelar namun mahasiswa juga akan mempelajari mengenai bagaimana cara hidup mandiri tanpa terus menerus meminta bantuan guru.


  • Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan
Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan strata pendidikan yang didapat, namun dengan melanjutkan pendidikan juga mampu meningkatkan keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki agar berkembang dengan lebih baik lagi. Saat ini sudah banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya sebuah pendidikan, karenanya banyak masyarakat yang melakukan kuliah sambil kerja untuk meningkatkan pendidikan yang dimilikinya.
Keterampilan dan pengetahuan tentunya tidak akan berkembang jika tidak diasah melalui latihan yang intens, karenanya melanjutkan pendidikan menjadi salah satu langkah tepat untuk mengasah kemampuan ini. Jika terkendala masalah biaya, saat ini pemerintah maupun pihak swasta memberikan kemudahan pembiayaan dalam bentuk beasiswa yang bisa didapat oleh mahasiswa baru maupun yang sudah memasuki masa pembelajaran.


  • Mencapai cita-cita
Jika seseorang memiliki cita-cita untuk menjadi dokter, tentunya jejak pendidikan yang harus dimasuki adalah perkuliahan Jurusan Kedokteran. Jika seseorang ingin menjadi seorang jaksa, hakim, atau advokat, jurusan hukum menjadi  jurusan yang wajib di masuki untuk mencapai cita-cita yang satu ini.
Akan sulit jika memiliki cita-cita menjadi dokter namun pendidikan yang dijalani hanya sebatas SMA saja, karena pada masa modern ini semua gelar resmi memerlukan ijazah resmi dari Universitas atau instansi terkait sebagai bukti bahwa ia telah melaksanakan pendidikan di bidang tersebut.


  • Mencapai standar pendidikan
Bagi yang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk kembali mengenyam pendidikan karena sudah bekerja, saat ini ada banyak universitas yang menyediakan kelas karyawan yang bisa dimanfaatkan untuk menjalani perkuliahan sembari bekerja. Jangan berpikir bahwa kuliah adalah hal yang tidak penting, pasalnya dilihat dengan perkembangan kebutuhan pekerja saat ini banyak diantara mereka (perusahaan atau instansi) yang menetapkan standar pendidikan terendah bukan SMA melainkan D3 atau S1.
Meski pemerintah menetapkan standar pendidikan terendah adalah SMA, namun nyatanya saat ini alumni SMA hanya bisa bekerja pada jenis pekerjaan kasar dengan gaji minimal yang kebanyakan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Sudah paham kenapa melanjutkan pendidikan begitu penting? bukan hanya masalah peluang pekerjaan yang tersedia jadi lebih mudah didapatkan, namun pendidikan yang lebih tinggi juga bisa meningkatkan pola pikir ataupun kedewasaan dalam berpikir.

Jika tidak memiliki biaya yang cukup untuk melanjutkan pendidikan, opsi kuliah sambil kerja menjadi pilihan yang tepat terlebih jika Anda bisa mengambil beasiswa yang disediakan berbagai universitas yang akan dimasuki sehingga masalah biaya ini bukan menjadi halangan lagi.



"Aku sadar belajar nggak akan pernah ada ruginya. Kalaupun kita tidak bisa menggunakan ilmunya saat ini, bukan mustahil kita akan membutuhkannya dimasa yang akan datang" 

#rumusjerome pada buku "Buku Latihan Soal : Mantappu Jiwa" karya Jerome Polin hal : 127



Refrensi :
  1. https://www.kompasiana.com/andrealiliana/5cd28f766db84339d41789f4/mengapa-melanjutkan-pendidikan-begitu-penting-simak-alasannya?page=all#sectionall
  2. https://communication.binus.ac.id/2018/08/27/alasan-mengapa-kita-harus-melanjutkan-pendidikan-di-perguruan-tinggi/
  3. https://koinworks.com/blog/manfaat-kuliah/




Senin, 20 Januari 2020

Pentingnya Sebuah Pendidikan Karakter




Pendidikan karakter adalah pendidikan yang sangat penting bagi kita terutama bagi anak-anak yang masih dalam dunia pendidikan, karena pendidikan karakter dalam dunia pendidikan ini dijadikan sebagai wadah atau proses untuk membentuk pribadi anak agar menjadi pribadi yang baik. Sebagai tenaga pendidik seorang guru juga perlu memberikan contoh perilaku yang baik kepada peserta didik, karena perilaku guru merupakan teladan bagi anak didik. Dalam dunia pendidikan memang pendidikan karakter sangat di butuhkan oleh peserta didik untuk membentuk pribadi yang baik, bijaksana, jujur, bertanggung jawab, dan bisa menghormati orang lain.

Dalam dunia pendidikan, pendidikan karakter memang sangat penting bagi peserta didik, untuk bekal mereka ketika dewasa nanti agar menjadi pribadi yang baik. Tetapi pada kenyataanya pendidikan sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri dan kurang memperhatikan perkembangan otak kanan.

Proses belajar juga berlangsung secara pasif dan kaku sehingga peserta didik menjadi jenuh bahkan. Pendidikan yang berkaitan dengan pendidikan karakter (seperti budi pekerti, dan agama) ternyata pada prakteknya lebih menekankan pada aspek otak kiri (hafalan, hanya sekedar tahu). Secara tidak langsung pendidikan yang seperti ini telah membunuh karakter anak bangsa sehingga menjadi tidak kreatif. Dengan adanya hal demikian kita sebagai calon pendidik bisa merubah pendidikan sekarang ini munuju pendidikan yang bermutu yang tidak hanya mengedepankan aspek kognitif saja tetapi juga harus memperhatikan sikap afektif dan psikomotoriknya juga. Ketika kita bisa melakukan hal tersebut maka pendidikan yang sekarang ini akan bisa menumbuhkan jiwa-jiwa yang berkarakter tinggi dan berpengetahuan luas.

Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia yang bermoral, membentuk manusia yang cerdas dan rasional, membentuk manusia yang inovatif dan suka bekerja keras, optimis dan percaya, dan berjiwa patriot. Dengan demikian pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak baik dari ranah kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas dan spiritual harus seimbang.

Sepanjang sejarahnya, di seluruh dunia ini, pendidikan pada hakekatnya memiliki dua tujuan, yaitu membantu manusia untuk menjadi cerdas dan pintar (smart), dan membantu mereka menjadi manusia yang baik (good). Menjadikan manusia cerdas dan pintar, boleh jadi mudah melakukannya, tetapi menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit. Dengan demikian, sangat wajar apabila dikatakan bahwa problem moral merupakan persoalan akut atau penyakit kronis yang mengiringi kehidupan manusia kapan dan di mana pun.

Menurunnya kualitas moral dalam kehidupan manusia Indonesia dewasa ini, terutama di kalangan anak-anak, menuntut diselenggarakannya pendidikan karakter. Sekolah dituntut untuk memainkan peran dan tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik dan membantu para siswa membentuk dan membangun karakter mereka dengan nilai-nilai yang baik. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu (seperti rasa hormat, tanggungjawab, jujur, peduli, dan adil) dan membantu siswa untuk memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sendiri.

Pendidikan karakter tidak hanya bermanfaat untuk membentuk kepribadian seorang anak, tapi juga mampu membantu mereka dalam memenuhi tugas-tugasnya sebagai seorang makhluk sosial yang beradab, oleh sebabitu, pendidikan ini sebaiknya sudah mulai diberikan sejak usia dini.
Berikut ini adalah beberapa alasan untuk memperjelas urgensi pendidikan karakter pada anak :

v  Menjamin Pembentukan Kepribadian Yang Baik
Sebagaimana yang kita tahu, manusia adalah makhluk yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, oleh karena itu apabila anak dibiasakan sejak dini untuk mempraktikkan hal-hal yang mencerminkan karakter baik seperti hemat, rajin, jujur, dan percaya diri, maka lama kelamaan sikap tersebut akan membentuk kepribadian anak secara permanen.

Dengan kata lain, pendidikan karakter sejak dini akan membentuk blueprint kepribadian yang baik pada anak Anda yang akan bertahan hingga mereka dewasa.

v  Mampu Mendongkrak Prestasi Akademik
Secara umum, sangat sedikit orang yang mengaitkan pentingnya pendidikan karakter bagi prestasi siswa. Dalam gambaran kasar, prestasi memang berkaitan erat dengan pendidikan formal yang diterima oleh anak baik melalui sekolah ataupun lembaga lainnya.Akan tetapi, efek pendidikan karakter rupanya juga dapat memainkan peranan penting dalam pencapaian prestasi akademik anak.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kepribadian anak memiliki peran yang signifikan dalam peningkatan prestasi akademik. Hal ini dipercaya berkaitan erat dengan sikap si anak dalam menyesuaikan diri di lingkungan belajarnya.

v  Salah Satu Investasi Masa Depan Terbaik Bagi Diri Anak
Karakter diri adalah salah satui nvestasi masa depan terbaik bagi putra-putri Anda. Dengan pribadi yang baik,mereka kelak akan tumbuh sebagai generasi penerus bangsa yang bisa diandalkan serta memberikan manfaat bagi orang lain.

v  Mendorong Moral Anak Yang Bermasalah
Tidak semua anak memiliki masa kecil yang hangat dan bahagia. Sebagian anak kerap mendapatkan masalah yang mampu mengganggu perkembangan psikisnya seperti masalah keluarga atau persoalan kemiskinan.

Cara yang paling tepat untuk menjagaagar si anak tidak beranjak dewasa dengan pandangan yang pesimis adalah dengan menanamkan pendidikan karakter yang kuat sejak dini.

v  Memberi Efek Positif Pada Lingkungan Pergaulan Anak
Anak dengan karakter yang terdidik secara otomatis akan menyebarkan rasa positif dan kenyamanan pada orang-orang di sekitarnya. Alih-alih mendapat dampak buruk dari lingkungan pergaulan, anak Anda justru dapat memberikan dampak positif kepada teman-teman sebayanya.

Akan tetapi, penting untuk dicatat bahwa anak-anak secara biologis memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar sehingga mudah bergaul dengan sembarang orang. Oleh sebab itu pastikan Anda memberikan pengawasan yang cukup terhadap lingkungan pergaulan anak.

Menurut Lickona ada tujuh alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan:

  1. Merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya.
  2.  Merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik.
  3. Sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain.
  4. Mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam.
  5. Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah.
  6.  Merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja.
  7.  Mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban.


Secara umum materi tentang pendidikan karakter dijelaskan oleh Berkowitz, Battistich, dan Bier (2008: 442) yang melaporkan bahwa materi pendidikan karakter sangat luas. Dari hasil penelitiannya dijelaskan bahwa paling tidak ada 25 variabel yang dapat dipakai sebagai materi pendidikan karakter. Namun, dari 25 variabel tersebut yang paling umum dilaporkan dan secara signifikan hanya ada 10, yaitu:

  1. Perilaku seksual
  2. Pengetahuan tentang karakter (Character knowledge)
  3. Pemahaman tentang moral sosial
  4. Ketrampilan pemecahan masalah
  5. Kompetensi emosional
  6. Hubungan dengan orang lain (Relationships)
  7. Perasaan keterikan dengan sekolah (Attachment to school)
  8. Prestasi akademis
  9. Kompetensi berkomunikasi
  10. Sikap kepada guru (Attitudes toward teachers)


Sebagai penutup, penting untuk dicatat bahwa kurangnya wawasan orang tua mengenai pendidikan karakter di dalam rumah seringkali menghambat proses penanaman nilai-nilai pendidikan karakter pada anak.

Padahal, pendidikan ini sejatinya tidak hanya menjadi tugas guru yang ada di sekolah, tapi juga para orang dewasa yang ada di sekitar anak termasuk kerabat dan orang tua.

Berbeda dengan pendidikan formal yang dapat ditempuh dengan cara-cara yang pasti dan teratur, pendidikan karakter hanya bisa didapat lewat kolaborasi antara guru dengan orang tua. Oleh sebab itu pastikan Anda aktif menjalin komunikasi dengan guru formal anak Anda disekolah untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai metode dan cara mendidik karakter anak Anda.

“ Alangkah majunya Indonesia kalau lebih banyak orangtua lebih seperti guru, dan lebih banyak guru seperti orangtua ”
-Nadiem Makarim, dalam pidatonya diseminar yang bertempat di Jakarta, 13 Desember 2019-

Referensi :
  1. https://www.kompasiana.com/amp/fatiiim/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam-dunia-pendidikan_590ff69fa5afbd8508fef994
  2. https://ruangguruku.com/m/mengapa-perlu-adanya-pendidikan-karakter/
  3. https://www.google.com/amp/s/www.appletreebsd.com/5-alasan-mengapa-pendidikan-karakter-sangat-penting-bagi-si-kecil/amp/