Jumat, 24 Januari 2020

Jerome Polin dan Mimpi Masa Depan Untuk Pendidikan di Indonesia

Belajar Mementingkan Pendidikan dan Peduli Terhadap Pendidikan Indonesia lewat Sosok ini ...



Jerome Polin, seorang pemuda yang lahir di Jakarta, 02 Mei 1998 merupakan seorang mahasiswa yang saat ini tengah menempuh pendidikan  S1 Matematika di Waseda University, Jepang. Jerome sendiri merupakan sosok inspiratif yang patut menjadi contoh bagi anak-anak milenial, yang tidak hanya eksis di chanel YouTubenya  “Nihongo Mantappu” dan seringkali ngebanyol di story Instagramnya ini juga berhasil mengejar cita-cita dari kecilnya untuk kuliah di luar negeri.

Jerome yang besar di Surabaya ini berbeda dari anak milenial biasanya, yang menganggap bahwa sekolah itu hanya sebuah kewajiban dan nilai bukan keharusan penting, namun bagi Jerome sekolah dan nilai itu amatlah penting.

Melalui video diakun Youtubenya yang berjudul “Sekolah, Nilai, Gelar, Penting Gak Sih?!” yang menghadirkan Sabda PS, Co-founder Zenius Education, Jerome dan Sabda berdiskusi menjelaskan mengenai pentingnya sekolah, nilai, dan gelar di era pertumbuhan teknologi yang sudah menyediakan akses mudah terhadap informasi dan pengetahuan bagi semua orang.







Apabila kita sudah mendapatkan ilmu dari luar, lalu apa pentingnya sekolah?

Menurut Jerome, hal yang didapat dari sekolah itu adalah pertemanan dan juga nilai-nilai kehidupan. Sebelum terjun ke dunia nyata, seseorang harus memiliki persiapan mental, dan sekolah juga memberikan tekanan pada peserta didiknya. Di sekolah inilah seseorang akan memiliki kemampuan menghadapi masalah, tanggung jawab, manajemen waktu, dan banyak hal-hal lainnya.

“Belajar ilmu mungkin bisa didapat dari tempat lain, tetapi yang paling penting dari sekolah itu belajar berteman dan bermasyarakat. Belajar dan mendalami keilmuan itu bisa dilakukan di mana-mana, namun yang paling sulit didapatkan di luar sekolah itu selain belajar berteman, kita juga belajar menghargai budaya orang lain— terlebih kalau bersekolah di sekolah campur yang terdiri dari berbagai macam suku, ras dan agama. Kita juga bisa belajar bertoleransi dan berkompromi dengan yang lain,” ujar Sabda.

Sabda menambahkan, “Buat apa sih kita belajar sesuatu yang tidak kita gunakan? Sebenarnya, belajar hal-hal seperti itu apabila dilakukan dengan benar akan banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari sisi pembentukan pola pikir. Bukan isinya, tetapi dampak belajarnya terhadap otak sehingga akhirnya bisa berpikir logis.”

Menurutnya, sekolah itu penting untuk merangsang rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan. Dengan belajar semua hal tersebut di sekolah, siswa tidak diwajibkan untuk jago semua hal dan tahu semua ilmu secara detil. Dengan hanya mengetahui big picture dari suatu bidang ilmu, maka siswa sudah mendapatkan fungsi fundamental dari sekolah.

Dia menambahkan, terlebih lagi kalau bersekolah di sekolah campur yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama. Kita juga bisa belajar bertoleransi dan berkompromi dengan yang lain.

Pembentukan pola pikir


Mereka pun membahas tentang pertanyaan, “Buat apa sih kita belajar sesuatu yang tidak kita gunakan?” Menurut Sabda, sebenarnya belajar hal-hal seperti itu apabila dilakukan dengan benar akan banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari sisi pembentukan pola pikir. “Bukan isinya, tetapi dampak belajarnya terhadap otak sehingga akhirnya bisa berpikir logis,” imbuhnya.
Dia menuturkan, sekolah itu penting untuk merangsang rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan. Dengan belajar semua hal tersebut di sekolah, siswa tidak diwajibkan untuk jago semua hal dan tahu semua ilmu secara detail. Dengan hanya mengetahui big picture dari suatu bidang ilmu, maka siswa sudah mendapatkan fungsi fundamental dari sekolah.

Apa pentingnya gelar?

Sabda menganggap bahwa gelar adalah semacam label bahwa seseorang sudah menguasai sesuatu. Misalnya, ketika seseorang sakit dan pergi berobat ke dokter, lalu dokternya tidak memiliki gelar, tentu saja akan timbul pemikiran apakah orang yang menangani keluhannya memang seorang dokter atau bukan.

Untuk bidang tertentu seperti dokter, tentu gelar itu sangatlah penting. Namun, untuk beberapa bidang lain seperti misalnya programming, indikator penguasaan ilmunya tidak hanya dilihat dari gelar. Para programmer tidak butuh gelar untuk mengukur kemampuannya, mereka akan dianggap menguasai bidang mereka dari program yang sudah berhasil mereka buat.

Gelar juga bisa menjadi sebuah masalah, karena tingkat kepercayaan seseorang terhadap suatu gelar sangat bergantung kepada lembaga yang memberi cap gelar tersebut. Tidak menutup kemungkinan bahwa suatu lembaga pemberi gelar bisa saja memiliki standar yang salah. Banyak kasus yang dapat ditemui sehari-hari di mana orang tidak menguasai bidang tertentu tetapi memiliki gelar di bidang tersebut.

“Sekolah penting atau tidak, ya ada pentingnya. Yang penting sekali dari sekolah adalah belajar bermasyarakat. Kalau belajar ilmunya itu bisa dari mana saja, tapi belajar bermasyarakat ini dipelajari di sekolah. Sekolah itu juga tempat kita mencari jati diri,” tutup Sabda.

Berbicara soal Jerome, ia memiliki mimpi sebagai Menteri Pendidikan Indonesia, tentu keinginan itu berawal dari sebuah keresahan saat melihat sistem pendidikan negara ini yang masih timpang. Siapa pun itu, kita tak seharusnya abai, menutup mata, menyumpal telinga, dan rebahan manja menyaksikan transformasi pendidikan yang kian tak sesuai harapan.

Masalah pendidikan di Indonesia perlu menjadi atensi dalam pergerakan kita saat ini. Tak perlu bercita-cita tinggi seperti Jerome yang ingin menjadi menteri pendidikan. Atau menunggu dulu menjadi guru, dosen, kepala sekolah, dan sebagainya, agar bisa mengatur semaunya. Kita tak harus menjadi jagoan dulu, tak perlu, tapi tidak juga berlagak jago, untuk melakukan suatu perubahan yang esensial dalam pendidikan kita.

Sebagai mahasiswa misalnya, kita bisa memulainya dari hal-hal kecil, tapi rutin dan komitmen dilakukan, seperti menahan diri untuk tidak menyontek saat ujian, tidak menyebarkan berita hoax, tidak menitip absen ke teman, tidak copy paste tugas punya teman atau dari internet-tanpa mengolahnya kembali dan lainnya.

Jerome sendiri memilih tidak berdiam diri. Di sela-sela kesibukannya menjalani studi di Jepang, ia telah berhasil menyelesaikan buku dengan judul “MANTAPPU JIWA” yang kabarnya sangat memotivasi para generasi muda. Dilansir dari detik.com, buku Jerome tersebut terjual sebanyak 2.000 eksemplar hanya dalam waktu 7 menit. Siapa pun, termasuk Jerome, tidak pernah menduga akan sampai pada pencapaiannya saat ini.



Melalui channel youtubenya pula, Nihongo Mantappu, ia tak kehabisan konten untuk menghibur penggemar-penggemarnya. Mulai dari cerita perjuangannya mendapatkan beasiswa Mitsui Bussan yang menurutnya tidak mudah-karena harus bersaing dengan puluhan ribu pendaftar Indonesia dengan kuota yang tersedia hanya dua orang, belajar bahasa dan kebudayaan Jepang, bagaimana kehidupan mahasiswa di Jepang, serta tak kalah seru dan paling ditunggu-tunggu ialah battle matematika dengan lawan yang tak kalah tangguh.

Selain membuat gigi mengering, tentunya video-video yang diunggah sangat mengedukasi, dan me-recharge energi-enegi pelajar Indonesia untuk terus belajar, mengasah kemampuan, jangan menyerah, jangan banyak main, jangan banyak galau, jangan banyak rebahan, jangan suka nge-bucin, dan teruslah melakukan hal-hal yang produktif!

Menyinggung soal mimpinya yang menjadi menteri pendidikan Indonesia masa didepan, di channel youtubenya yang khas dengan jargon “Mantappu Jiwa”, “wadidaw”, ia juga bercerita banyak tentang opini-opininya terkait pendidikan Indonesia dan harapan-harapannya saat mimpinya menjadi menteri pendidikan benar-benar terwujud suatu saat nanti.

Dalam vlog yang berdurasi 10 menit 50 detik, Jerome menyampaikan 3 poin yang menurutnya sangat krusial dalam pendidikan Indonesia dengan sapaan pembuka yang khas, “Minnasan Konnijiwaaaaaaaaaaaaaaa”. Nah, salah satu poin menarik yang ia bahas, ialah tentang bagaimana kedudukan profesi guru di negara Indonesia ini. 


 Bagi Jerome, gaji guru di Indonesia terbilang rendah apalagi untuk guru honorer dan guru-guru swasta. Meski memang, tidak semua orang melihat pekerjaan dari segi materinya, tapi menurutku sah-sah saja menyinggung gaji guru sebagai salah satu indikator bergengsi tidaknya profesi tersebut.

Guru, yang katanya punya peran sangat besar dalam dunia pendidikan dan kunci utama membuka pintu kemajuan bangsa, namun tidak mendapat penjaminan kesejahteraan hidup, baik dari segi materi maupun hukum. Amich Alhumami dalam tulisannya berjudul “Memuliakan Profesi Guru”-dalam buku berjudul “Potret Pendidikan Kita”, ia mengibaratkan guru sebagai jantung dari segala problem pendidikan yang terjadi di Indonesia.

Namun, nyatanya guru masih dianggap sebagai profesi rendahan, sepele, dan biasa-biasa saja. Tidak seprestisius profesi dokter, polisi, tentara, presiden, dan profesi bergengsi lainnya.

Jika dibandingkan dengan Jepang, Jerome mengaku bahwa gaji guru disana bisa mencapai Rp38 juta/bulan. Woow. Itu angka yang fantastis bagi seorang guru Indonesia, bukan? Dan, faktanya, ternyata rata-rata orang Jepang memiliki minat tinggi untuk menjadi guru. Alasannya bukan semata karena gaji yang tinggi, tapi mereka sangat peduli dan ingin berkontribusi untuk perbaikan pendidikan di negaranya. Bagaimana dengan kita?

Menurut Jerome, ada korelasi positif antara gaji guru dengan peningkatan kualitas guru. Jadi begini korelasinya, ketika gaji guru tinggi, maka tentu akan banyak orang yang berminat menjadi guru. Saat minat menjadi guru tinggi, orang akan berlomba-lomba mengikuti seleksi perekrutan guru, dan akibatnya persaingan menjadi guru akan ketat.

Dengan demikian, persaingan yang ketat akan mendorong para calon guru untuk memikirkan cara terbaik, mengasah potensi, mengembangkan kemampuan, dan meningkatkan kreativitas agar bisa lulus seleksi menjadi guru. Melalui perekrutan guru yang ketat, maka akan dihasilkan guru-guru yang berkualitas dan berkompeten dalam mengarungi perjalanan pendidikan Indonesia. Guru yang berkualitaslah yang mampu menghasilkan SDM-SDM yang berkualitas pula yang siap menjadi bahan baku segar untuk diolah menuju kemajuan bangsa Indonesia.

Terakhir dari video tersebut, dengan lugas dan penuh keyakinan ia menyampaikan harapannya saat menjadi bagian dari penentu kebijakan pendidikan di Indonesia nanti. “Jadi, ketika aku bisa berkontribusi untuk pendidikan Indonesia, aku akan meningkatkan kesejahteraan guru dan meningkatkan kualitas guru-guru Indonesia, sehingga diharapkan profesi guru bisa menjadi profesi yang banyak diminati oleh orang dan tidak dianggap rendah lagi.

Dan, akhirnya akan banyak persaingan untuk menjadi guru, sehingga level dan kualitas guru akan meningkat, dan dapat menghasilkan banyak murid yang baik. Murid-murid yang baik akan menjadi SDM yang berkualitas suatu saat nanti. Dan, SDM yang berkualitas itulah yang akan berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. Sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang kuat, negara yang maju. Dan menjadi negara yang disegani oleh banyak bangsa.”

Dari unggahan tersebut, terhitung 424.071 kali yang menonton dan paling penting ada sebanyak 10.231 komentar yang hampir semua mendukung dan tidak sabar menunggu Jerome untuk menduduki Menteri Pendidikan Indonesia kelak. Banyak juga yang menyampaikan harapan-harapan mereka yang kiranya dapat dipertimbangkan dan direalisasikan ketika Jerome berkuasa sebagai pengambil kebijakan suatu saat nanti.

Tapi kenapa harus menunggu jerome? Bukankah baru beberapa waktu lalu Mentri Pendidikan Indonesia diamanahkan kepada orang baru yakni Bapak Nadiem Makarim?. Semoga aprisiasi kita sampai dan terdengar oleh Bapak Mendikbud yang baru yaa^^.



"Lawanmu itu 'soal' bukan 'mereka'. Kalau kamu bisa kerjakan 'soal'nya, kamu dapat nilai bagus. Kalau mereka dapat nilai bagus juga, kalian sama-sama dapat nilai bagus. Jadi, tidak usah repot memikirkan 'saingan'mu, pikirkan 'soal' yang menunggumu saja." 

#rumusjerome pada buku "Buku Latihan Soal : Mantappu Jiwa" karya Jerome Polin hal. 103






Refrensi :
  1. https://edukasi.kompas.com/read/2019/02/21/17481351/mengenal-jerome-polin-dan-alasan-bikin-vlog-kehidupan-kuliah-di-jepang?page=all.
  2. https://edukasi.kompas.com/read/2019/09/30/17124561/pentingnya-sekolah-dan-nilai-di-mata-influencer-pendidikan?page=all
  3. https://www.idntimes.com/life/education/niken-ajeng-pangestuty/7-fakta-jerome-polin-youtuber-indonesia-yang-dapat-beasiswa-di-jepang-c1c2-1/full
  4. https://www.qureta.com/post/jerome-polin-dan-mimpi-masa-depan-pendidikan-indonesia
  5. https://edukasi.kompas.com/read/2019/02/21/17481351/mengenal-jerome-polin-dan-alasan-bikin-vlog-kehidupan-kuliah-di-jepang?page=all

Tidak ada komentar:

Posting Komentar